Parade Ogoh-Ogoh Anak TK Gugus Tunjung 2 Kecamatan Abiansemal Meriahkan Desa Taman dan Tanamkan Cinta Budaya Sejak Dini

penjagaan pawai ogoh ogoh tk 2

Desa Taman, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung – Dalam rangka melestarikan adat, seni, dan budaya Bali kepada generasi muda, TK Gugus Tunjung 2 Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung menyelenggarakan Parade Ogoh-Ogoh Anak pada Jumat, 22 Maret 2025 yang berlokasi di Desa Taman. Kegiatan ini berlangsung meriah dengan melibatkan ratusan anak-anak taman kanak-kanak yang tampil penuh semangat mengenakan pakaian adat Bali sambil mengarak miniatur ogoh-ogoh hasil kreativitas masing-masing sekolah.

Parade ini tidak hanya menjadi ajang unjuk kreativitas anak-anak, tetapi juga menjadi media pendidikan karakter dan pelestarian budaya sejak usia dini. Melalui kegiatan tersebut, para peserta diperkenalkan secara langsung terhadap salah satu tradisi khas Bali yang telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali.

Ogoh-ogoh merupakan karya seni berbentuk patung yang umumnya menggambarkan sosok Bhuta Kala, yaitu simbol sifat-sifat negatif atau energi yang harus dinetralkan demi terciptanya keseimbangan hidup. Dalam tradisi masyarakat Bali, ogoh-ogoh diarak pada malam Pengrupukan, yaitu sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Setelah diarak mengelilingi lingkungan desa, ogoh-ogoh biasanya dimusnahkan atau dibakar sebagai simbol penyucian alam dan manusia dari pengaruh negatif.

Tradisi tersebut memiliki makna filosofis yang sangat dalam. Selain menjadi bagian dari rangkaian Hari Raya Nyepi, pembuatan ogoh-ogoh juga mengajarkan pentingnya kebersamaan, kreativitas, kerja sama, serta semangat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.

Melalui Parade Ogoh-Ogoh Anak TK Gugus Tunjung 2 ini, nilai-nilai luhur tersebut mulai dikenalkan kepada anak-anak sejak usia dini. Mereka tidak hanya diajak mengenal bentuk dan makna ogoh-ogoh, tetapi juga merasakan secara langsung suasana tradisi yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat Bali.

Kegiatan ini mendapat sambutan yang sangat baik dari masyarakat maupun pemerintah daerah. Hadir dalam acara tersebut Camat Abiansemal beserta jajaran, Perbekel Desa Taman selaku tuan rumah, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Taman, Bendesa Adat Taman, tokoh masyarakat, serta sejumlah kepala desa dari wilayah sekitar, di antaranya Perbekel Desa Bongkasa Pertiwi, Perbekel Desa Bongkasa, Perbekel Desa Punggul, dan Perbekel Desa Selat. Kehadiran para tamu undangan menunjukkan dukungan terhadap upaya pelestarian budaya Bali melalui dunia pendidikan.

Dalam sambutannya, Perbekel Desa Taman menyampaikan apresiasi kepada seluruh sekolah, guru, orang tua, dan panitia yang telah bekerja keras menyelenggarakan kegiatan ini. Menurut beliau, pengenalan budaya kepada anak-anak merupakan investasi penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi Bali di masa depan.

Beliau menegaskan bahwa generasi muda perlu diberikan ruang untuk mengenal, memahami, dan mencintai budaya daerahnya sejak usia dini. Dengan demikian, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, jati diri, dan rasa bangga terhadap budaya sendiri.

Parade berlangsung penuh semangat. Anak-anak berjalan bersama sambil mengarak ogoh-ogoh berukuran kecil yang dibuat dengan berbagai bentuk menarik dan penuh warna. Di sepanjang rute parade, masyarakat tampak antusias memberikan dukungan dan semangat kepada para peserta.

Selain menjadi ajang kreativitas, kegiatan ini juga memberikan pengalaman berharga bagi anak-anak mengenai arti kerja sama. Proses pembuatan ogoh-ogoh melibatkan guru, orang tua, dan peserta didik sehingga menumbuhkan semangat gotong royong, saling membantu, serta menghargai hasil karya bersama.

Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar bahwa sebuah karya yang baik tidak dapat diwujudkan sendiri, melainkan membutuhkan kerja sama, komunikasi, dan rasa tanggung jawab dari seluruh anggota kelompok. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting dalam pembentukan karakter anak sejak dini.

Kegiatan ini juga menjadi media pembelajaran yang menyenangkan. Anak-anak dapat mengenal berbagai unsur budaya Bali secara langsung, mulai dari pakaian adat, seni rupa, musik tradisional, hingga makna filosofi yang terkandung dalam tradisi ogoh-ogoh. Pembelajaran seperti ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa ingin tahu serta kecintaan terhadap warisan budaya daerah.

Demi memastikan kegiatan berjalan aman dan tertib, panitia bekerja sama dengan berbagai unsur pengamanan. Pengaturan lalu lintas serta pengamanan jalannya parade melibatkan Kepolisian, Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan Linmas Desa Taman. Kehadiran aparat keamanan memberikan rasa aman kepada seluruh peserta, guru pendamping, orang tua, maupun masyarakat yang menyaksikan jalannya parade.

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan lancar dan tertib berkat koordinasi yang baik antara panitia, pemerintah desa, aparat keamanan, dan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan suatu kegiatan budaya tidak terlepas dari semangat kebersamaan dan gotong royong seluruh elemen masyarakat.

Selain melestarikan budaya, kegiatan seperti ini juga memberikan dampak positif terhadap perkembangan sosial anak. Mereka belajar tampil percaya diri di depan umum, berinteraksi dengan teman dari sekolah lain, menghargai karya orang lain, serta memahami pentingnya menjaga tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur.

Pemerintah Desa Taman berharap Parade Ogoh-Ogoh Anak dapat terus dilaksanakan secara rutin sebagai bagian dari pendidikan karakter berbasis budaya lokal. Tradisi Bali yang kaya akan nilai moral, spiritual, dan kebersamaan perlu terus dikenalkan kepada generasi penerus agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.

Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh generasi muda yang bangga terhadap identitas budayanya, memiliki rasa tanggung jawab untuk melestarikan tradisi, serta mampu menjadi penerus yang menjaga warisan leluhur dengan penuh kesadaran.

Parade Ogoh-Ogoh Anak TK Gugus Tunjung 2 Kecamatan Abiansemal Tahun 2025 menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat dimulai sejak usia dini melalui kegiatan yang edukatif, kreatif, dan menyenangkan. Dengan dukungan pemerintah, lembaga pendidikan, orang tua, dan masyarakat, nilai-nilai budaya Bali akan terus hidup dan berkembang di tengah generasi muda.

Semoga kegiatan ini menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain untuk terus mengenalkan budaya daerah kepada anak-anak sebagai bagian dari pembentukan karakter, penguatan identitas budaya, serta upaya menjaga kelestarian warisan leluhur Bali bagi generasi yang akan datang.

Scroll to Top